Ignis Natura Renovatur Integra. Powered by Blogger.
RSS

Among the Wolves

Kupersembahkan proklamasi ini untuk engkau, sang pengkotbah palsu, dengan syair tanpa irama dan ceramahmu tentang sorga dan neraka yang begitu menyakiti umat manusia yang berhati lembut dan berakal sehat. Untukmu kutuliskan makian seorang pendosa ini.

Engkau membuat agama menjadi wayang dan tontonan layaknya sinetron. Ketika nama tuhan diobral hanya untuk sekedar mempertahankan hidup seorang anak manusia. Ketika makna beragama menjadi sebuah kepentingan egoistik yang mencari surga dengan menendang pantat orang lain. Bahkan si dungu dan si gila pun menjadi muak. Dengan berbagai atribut miring kesucian para agamawan yang engkau lekatkan dengan sampah lengket ke baju seragammu. Aku menjadi sadar, bahwa hidup di dunia ini memang menjalani sebuah neraka. Yang penuh senyum. Menyimpan duri. Hanya karena bertemu denganmu.

Aku menertawakan engkau wahai calon penghuni surga, karena pikiranmu apatis dan ragu terhadap surga namun tetap memperkosa hatimu untuk percaya. Dunia yang lebih baik ? apa itu bukan sekedar guyonan menunggu malam tiba ? percayalah, saat ini kita sedang menjalani neraka. Dan mereka mengatakan disana ada neraka yang lebih dahsyat lagi. Siapakah yang tidak apatis dan pesimis mendengarnya ? berakal sehatlah. Jangan terlalu kejam pada sesamamu dengan secuil ilmu yang engkau miliki. Jangan hanya bisa mengancam karena bahkan dirimu sendiri pun tak yakin akan ucapanmu.

Kepongahanmu terlihat dari raut wajahmu yang licik melebihi musang. Dan bibirmu yang berliur bagai serigala kelaparan benar-benar tak pantas menggumamkan nama tuhan. Kau anggap dirimu suci, sedangkan yang kau makan sebagai pengisi perutmu yang membuncit adalah bangkai. Mayat saudaramu yang mati meratapi nasibnya sebagai pendosa di dunia ini. Bahkan setan pun merasa jijik melihat sosokmu yang sok suci. Mereka sampai berdoa “ya tuhan, jauhkanlah anak cucu kami dari moralitas yang bahkan jahatnya melebihi kaum kami, seperti mereka... “.

Saat yang begitu mengenaskan. Saat hati ingin percaya, namun tiada yang layak untuk diikuti. Saat pikiran ingin istirah, namun tiada tempat yang sepi dari jangkauan suara bisingmu. Barangkali aku memang seorang pendosa, namun perlu engkau catat bahwa aku adalah pendosa yang berkesadaran. Sedangkan dirimu engkau akui sendiri sebagai seorang suci, namun bagiku serupa orang yang tidak sadar. Seorang penidur yang tidak sadar menggumamkan kotbah dalam mimpi-mimpi buruknya. Aku merdeka untuk berpikir, merasa dan bertindak. Tanpa penjajahan tuhanmu yang tak lagi peduli pada dirimu. Aku merdeka !



@ mourning palace

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

5 komentar sehat ::

Anonymous said...

".....yang kita perlukan di sini hanyalah sekuntum kembang layu, sebagai pembatas antara Langit dan Benda, Ruh dan Raga....."
(Jalma Sutra 9:100)

DisKonekted said...

iki dudu proklamasi lho dab...

mPitzky said...

kenapa to ama proklamasi aja takut?

FaUZaNeVVa said...

Hmmm... Jadi lapar...

FaUZaNeVVa said...

Vaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggggggggggggggg!!!!!!!!!!!!!!

TEST!!