Ignis Natura Renovatur Integra. Powered by Blogger.
RSS

The Voices inside my head

Menurut beberapa orang, suara adalah sebentuk gelombang udara, yang muncul akibat adanya penyebab, energi yang termanifestasikan dalam sebuah bentuk gelombang, dan mengalir dalam ruang dan waktu. Suara daun-dan yang bergemerisik terkena hembusan angin maupun suara halilintar yang menggelegar tak ada bedanya. Demikian menurut beberapa orang. Gelombang udara menjadi “suara” saat ia masuk ke sistim pendengaran, telinga, dimana ia dapat menggetarkan membran yang menurut guru sd saya bernama gendang suara, yang pada selanjutnya memberikan aliran impuls-impuls pada saraf yang dikenali dan diterjemahkan oleh otak menjadi bunyi. Begitu sederhananya. Dunia tanpa suara tak akan sama dengan dunia yang sedang saya jalani ini. Setiap saat jutaan suara bergema dalam kesadaran saya. Suara desiran darah mengaliri tubuh, suara detak jantung, suara nafas yang kadang dalam dan kadang dangkal, suara sel-sel yang membelah diri, suara organ organ tubuh yang terus beregenerasi dan semuanya. Sungguh sebuah dunia yang sangat ramai dan menakjubkan.

Menurut sebagian besar orang, suara dapat menjadi penentu nasib mereka. Bagaikan suara tokek dan cicak yang bisa membuat beberapa orang harap-harap cemas, bahkan bisa membuat orang kehilangan akal sehatnya. Demikian pula dengan “suara” atau lebih tepatnya “perolehan suara” bagi mereka yang bermain-main dengan suara rakyat. Suara menjadi barang dagangan, komoditi yang bisa diperjual belikan dengan mengatasnamakan kepentingan umum, harapan, moralitas palsu dan isi perut. Suara yang begitu penuh dengan balutan harapan akan janji yang amat samar dan tanpa jaminan.

Tapi bukan itu “suara” yang saya maksudkan. Suara yang lebih dalam, lebih bermakna, lebih dan lebih dari sekedar mulut “njeplak” dan masuk ke dalam sistim saraf telinga. Suara yang saya maksudkan bahkan mungkin tak pernah tersampaikan lewat mulut dan tak pernah masuk ke sistim saraf telinga seorangpun. Suara yang saya maksudkan adalah suara tanpa suara.

Seorang saudara pernah bilang bahwa saya terlalu merumitkan hal-hal yang sederhana dalam hidup ini. “Biarlah yang sederhana tetap sederhana!”, begitu menurutnya. Namun karena saya dan dia tumbuh dalam lingkungan yang amat berbeda, mau tak mau saya harus menemukan sudut pandang saya sendiri. Dan inilah suara tanpa bunyi. Menurut definisi saya sendiri tentunya. Dengan pola yang rumit seperti biasanya, bahkan membingungkan karena tidak jelas apa maksudnya.

Suara bagi saya bukanlah sebuah energi, gelombang dan berbagai besaran apapun yang dibicarakan orang biasa. Suara bagi saya adalah pencemaran udara, khususnya suara manusia. Dunia ini akan lebih baik bila manusia tidak pernah bersuara. Sampai di poin ini barangkali ada beberapa orang yang curiga akan tendensi tulisan ini sebagai pembenaran akan ketidakmampuan berkomunikasi diri saya. Dalam beberapa hal mereka benar, namun tidak sepenuhnya benar. Suara dan komunikasi memang hal yang kadang sangat berkaitan erat, namun untuk melakukan komunikasi, manusia tidak selalu memerlukan suara. Suara manusia adalah sebuah wabah mengerikan yang telah menghancurkan peradaban kemanusiaan di bumi ini. Suara manusia yang telah mengantarkan kita pada penghancuran umat manusia secara bertahap namun pasti. Sejak penyerbuan jenghis khan ke eropa hingga penyerbuan russia ke georgia, semua merupakan buah karya suara. Entah bisa dimengerti entah tidak, saya tidak peduli. The man behind the gun, demikian orang berkata, namun saya berpendapat (bersuara) the voices inside their head that make the war begins. Dari skala peperangan rumah tangga hingga peperangan dunia semua berasal dari suara tersebut. Ketidakpuasan yang bermanifestasi menjadi suara, berkembang menjadi tindakan yang dilakukan oleh banyak orang.

Ya, memang ini juga adalah suara. Tapi sepenjang anda tidak mendengarkannya, ia akan mandul. Hanya akan Menjadi pixel yang bergeser-geser di layar, bagaikan cahaya sebuah bintang yang sudah mati dua puluh juta tahun yang lalu.

Sejak kecil, saya telah sering mendengar suara-suara aneh dalam kepala saya seperti “siapakah kamu ? siapakah diri saya ?”, “apa yang sedang saya lakukan disini ?”,”mengapa saya ada disini ?”. Berbagai suara sejenis, yang selalu dibarengi oleh rasa malu dan penyesalan, seolah mencoba menyadarkan diri saya siapakah dia sebenarnya. Saat dewasa saya mencoba memahami suara-suara tersebut sebagai kesadaranpurba yang mencoba mengingatkan saya akan asal dan hakikat sesungguhnya dari keberadaan diri saya di dunia yang ini. Ia mencoba mengingatkan entah sudah berapa ratus juta tahun saya ber-reinkarnasi namun selalu belum berhasil juga melepaskan diri dari lingkaran keberadaan ini. Barangkali, merekalah satu-satunya suara sejati dalam diri saya, yang sekarang bahkan telah hilang dimakan kebisingan suara-suara lainnya yang meruang dan mewaktu disini. Saat ini.

Kembali ke suara tanpa suara (sepertinya terlihat sekali bahwa tulisan ini mencerminkan sebuah inkonsistensi, tanpa konsep yang jelas dan bisa menjadi bahan penelitian kepribadian yang terfragmentasi). Suara menjadi indah saat ia tak lagi bersuara. Saat suara kehilangan suaranya, ia akan moksa. Akan kembali pada makna awal keberadaannya. Menjadi jembatan antara pikiran dan hati. Menjadi sarana kesadaran untuk mengaktualisasikan dirinya. Menjadi senyum tanpa kata-kata. Hanya inilah yang bisa saya sampaikan. Menjadi suara tanpa suara. Bagaikan bunga yang mekar di tengah hutan tanpa ada seorang pun yang melihatnya. Ia tetap indah. Tetap wangi.





(merdeka sudah lewat kemarin sore)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

3 komentar sehat ::

mPitzky said...

koq kalo ama gwa bawel?

DisKonekted said...

bawel apa "bawel" oom ?

Anonymous said...

bukankah kita sudah sepakat, jika kita bukan dari dunia ini??