Ignis Natura Renovatur Integra. Powered by Blogger.
RSS

Pentingkah ?

Sejak hawa atau eva memakan buah sorga, manusia telah dikutuk dengan rasionalitas yang buta. Iblis, sang pemikir tangguh, bapak para eksistensialis, telah menyatakan bahwa hanya dengan pikiranlah manusia bisa mencapai keilahian yang sempurna, menjadi tuhan. Demikian yang dikatakan oleh sejarah purbakala atau bahkan sejak prasejarah ? Sejak manusia tumbuh terbentuk dari lima unsur utama, ia mewarisi sifat-sifat dari kelima unsur tersebut dengan sempurna. Seperti rumi pernah mengatakan; dari mineral menjadi tumbuhan, dari tumbuhan menjadi hewan, dari hewan menjadi manusia, dan dari manusia menjadi cahaya (tuhan). Rumi bukanlah darwin. Ia tidak mengatakan hal tersebut sebagai evolusi physically, namun lebih ke arah evolusi spiritual. Evolusi dari nafsu ammarah, lawammah dan berakhir di nafsu muthmainah. Dari tidur ke bangun total. Dan rasionalitas hanyalah sisipan dari iblis yang tidak rela manusia memuja perasaannya tanpa pikiran.

Teknologi manusia tertinggi, dunia tanpa peralatan fisik, telah mengalami degradasi dengan argumen rasionalitas dari iblis. Manusia jadi membutuhkan handphone untuk berkomunikasi, mobil untuk bepergian dan televisi untuk menghibur diri. Hal-hal yang sebelum adam dikutuk turun ke dunia, tak pernah terjadi. “Dikutuk turun” itu sendiri adalah makna lugas dari degradasi keilmuan yang turun derajatnya, dari sorgawi menjadi duniawi. Alih-alih menyetel gelombang otak kita untuk mengirim informasi ke otak manusia lainnya yang ingin kita hubungi, kita malah menggunakan handphone dengan mencari-cari satu nomor diantara deretan ratusan nomor yang juga masih membutuhkan biaya tinggi saat kita ingin menyampaikan sesuatu, bahkan masih mempergunakan bahasa dan mulut yang kadang tidak menyatakan hal yang sesungguhnya ingin kita sampaikan. Fenomena “kemajuan” inilah yang banyak ditentang oleh komunitas tertentu, saya tidak mengatakannya komunitas “black metal” karena akan menyebabkan beberapa orang mengerutkan kening mereka dengan tajam. Salah satu pernyataan dari komunitas tersebut adalah “Rebirth of the magick, in the macrocosmical reign .. dst” (Necrodeath, 1992) menyiratkan kerinduan akan kehidupan yang telah (pernah) dialami umat manusia di masa lampau, dimana ilmu pengetahuan masih didominasi oleh teknologi hati, teknologi kesadaran ie magick. Magick ?

Ya, inilah salah kaprah terbesar manusia, menganggap magick sebagai ilmu sihir. Hal inilah yang harus diluruskan oleh saya. Magick serupa dengan teosofi, sufisme, spiritualisme, dan berbagai kesadaranisme lainnya. Ia hanyalah sebuah way of life purba, yang terlupakan, dan terpelintir oleh sejarah menjadi sesuatu yang berkonotasi negatif. Magick bukanlah magic, sihir, witchery, sulap dan sejenisnya. Ia adalah ilmu pengetahuan asali manusia. Bahasa purba sarana manusia berkomunikasi dengan alam semesta dan tuhan. Magick adalah magick.

Jadi bisa dikatakan bahwa teknologi adam sebelum memakan buah sorga adalah teknologi non rasio (atau suprarasio) bernama magick, dan setelah diplesetkan iblis, teknologinya bergeser menjadi teknologi rendahan bernama sains. Karena itu apabila sekarang ada studi tentang hubungan sains dan magick maka studi itu adalah salah kaprah. Sains adalah sisi gelap magick, degradasi tak terampuni, oleh karena itu selamanya tak akan bisa memahami esensi magick yang sesungguhnya. Agama ?
Agama adalah bahasa penterjemahan magick untuk orang kebanyakan. Seorang nabi adalah seorang penterjemah bahasa langit ie magick yang mengajarkan jalan pintas menuju kehidupan sejati, tujuan sejati seorang manusia hidup, yaitu kembali menjadi adam saat ia belum diplesetkan iblis ke bumi ini. Adam kadmon, manusia sejati. Manusia tanpa bentuk.

bahasa buana ? entahlah…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar sehat ::