yah inilah yang terjadi apabila jiwa kehilangan kepekaan, pikiran kehilangan kata dan kesadaran kehilangan keberjagaan. semuanya benar benar menumpul. saya sudah kehilangan kata kata untuk menulis. semuanya kabur, melenyap dan musnah. saya menjadi cangkang.
Menjadi Manusia
menjadi manusia barangkali sama artinya dengan menjadi berperasaan, menjadi berpikir, dan menjadi berwatak sebagaimana manusia pada umumnya. manusia pada umumnya, bila dipukul rata, masing-masing memiliki kesamaan yang tak terbantahkan yaitu :
- Memiliki perasaan marah dan sedih apabila dihina ataupun dilecehkan orang lain
- Memiliki keinginan untuk hidup senang, bahagia, gembira dan dihormati orang setiap saat.
- dan lain lain
saya hanya ingin menyampaikan bahwa manusia tidak harus seperti itu. siapa yang mengharuskan seorang manusia marah saat dilecehkan ? siapa yang mengharuskan hati menjadi bangga saat dihormati orang lain. siapa yang mengharuskan berbagai kekonyolan manusiawi itu ? bukankah kita hidup bisa memilih ? saya bisa memilih untuk marah ataupun tidak saat ada yang melecehkan saya, saya bisa memilih untuk bangga atau tidak saat ada yang menyanjung saya. mengapa saya harus seperti manusia lainnya ? bukankah perasaan mereka lebih menderita daripada saya dengan berbagai keterikatan itu ?
Apa ya ?

wah gila, baru mau istirahat malah lihat acara di anteve yang luar biasa keren : .........., bukannya ngeri saya malah tertawa geli sendirian malam-malam (02:00 dinihari) melihat acara itu, bayangkan, tangan seorang manusia ditancapi jarum-jarum besar sampai tembus di 4 bagian tangan, belum puas dengan kengerian yang menggelikan itu seutas kawat ditembuskan di kedua bibirnya kemudian ditarik-tarik hingga penonton berteriak-teriak ngeri. acara yang luar biasa, saya tak henti-hentinya tertawa, benar-benar lucu dan mengerikan. betapa jaman ini jadi jaman yang susah sekali.
Maaf

Dari 3 buku yang dikasih kawan-kawan saya di akhir tahun kemarin (Perempuan Dalam Seni Sastra, Kaum Profesional Menentang Rezim Otoriter dari Ms Pito. Psikologi Imajisasi Sartre dari Pakdhe Udik) belum satupun yang bisa saya baca, karena begitu membuka baru selembar halaman sudah tidak mudeng isinya, apalagi maknanya. Maaf, memang otak saya lagi begitu Low.
UPALI

Upali, seorang jutawan, adalah salah seorang murid terbaik dari guru agama lain yang bernama Nigantha Nathaputta, yang ajarannya berbeda dengan ajaran Sang Buddha. Karena sangat mahir dalam hal berdebat, Upali diminta oleh guru agamanya untuk mendekati Sang Buddha dan mengalahkan Beliau dengan ajaran pokok-pokok tertentu tentang Hukum Sebab Akibat (Kamma vipaka). Setelah melewati diskusi yang panjang, Sang Buddha mampu meyakinkan Upali bahwa pandangan-pandangan dari guru agamanya adalah keliru.
Upali sangat terkesan dalam ajaran Sang Buddha sehingga ia langsung meminta untuk diterima sebagai pengikut Sang Buddha. Ia tercengang ketika Sang Buddha menasihatinya, “Upali, engkau adalah orang yang terkenal. Yakinlah benar-benar bahwa engkau tidak mengubah agama/kepercayaanmu dalam pengaruh emosi/perasaanmu. Periksalah sepenuhnya ajaran Tathagata degnan pikiran terbuka sebelum engkau memutuskan untuk menjadi pengikut Tathagata”.
Dengan semangat pemeriksaan yang bebas terhadap ajaran Sang Buddha. Upali bahkan semakin senang dan ia berkata, “Yang Mulia, adalah sangat menakjubkan bahwasanya Anda meminta saya untuk mempertimbangkannya dengan hati-hati. Jika itu adalah guru-guru yang lain, mereka akan segera menerimaku dengan tanpa ragu-ragu, membawaku berkeliling di jalan-jalan dalam suatu prosesi dan mengumumkan bahwa seorang jutawan yang demikian-demikian telah meninggalkan agama/kepercayaan lamanya dan sekarang memeluk ajaran mereka. Ya, benar-benar, Yang Mulia, sudilah menerima saya sebagai pengikutMu”.
Sang Buddha akhirnya setuju menerima Upali sebagai pengikut awamNya tetapi dengan menasihatinya demikian, “Meskipun engkau sekarang telah menjadi pengikutKu, Upali, engkau harus mempraktekkan toleransi dan rasa welas-asih. Teruslah memberi dana kepada guru-guru agama terdahulumu, karena mereka masih amat tergantung pada tunjanganmu. Engkau tidak boleh mengabaikan mereka dalam menghentikan tunjangan yang biasanya engkau berikan kepada mereka”.
Nasihat Sang Buddha tentang toleransi, pemeriksaan yang bebas (terhadap ajaranNya) dan tidak menerima ajaranNya karena alasan-alasan emosi/perasaan, telah memberikan catatan yang bersih dalam sejarah penyebaran agama Buddha. Tidak pernah ada penganut-penganut fanatik agama Buddha yang memaksa orang-orang untuk menerima agama ini dengan menyiksa atau menakut-nakuti mereka dengan ganjaran hukuman. Agama Buddha mampu menyebar dalam cara yang damai, sebagian besar adalah karena keindahannya dan kemauan baik yang terkandung di dalamnya.
---------
“Seseorang seharusnya tidak hanya menghargai agamanya dan mencela agama orang lain, tetapi seseorang seharusnya menghargai agama orang lain. Dengan melakukan hal ini, seseorang membantu agamanya untuk tumbuh dan memberikan perlakuan yang baik terhadap agama yang lain juga. Dengan melakukan yang sebaliknya, seseorang menggali kubur bagi agamanya sendiri dan sekaligus merugikan agama yang lain.”
Asoka
Legion XII Fulminata

Saya ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada kalian, para rekan saya, dalam kesediaan kalian yang penuh loyalitas membantu terwujudnya kesempurnaan seluruh pekerjaan saya. Saya tidak pernah menganggap kalian sebagai anak-buah saya, karyawan dan sejenisnya karena bagi saya kalian lebih dari itu. Di medan pekerjaan yang teramat sulitpun tak pernah saya dengar satu keluhanpun dari kalian, walaupun dalam hati sebenarnya saya pesimis melaluinya. Terima kasih karena kalian telah membuat saya harus bersikap tegar bahkan disaat saya mulai goyah di dalam. Terima kasih atas loyalitas kalian yang tanpa pamrih dan tak masuk akal padahal saya bukan siapa-siapa. Terima kasih atas kesigapan kalian saat menerima panggilan saya, meskipun saat itu mungkin kalian tengah sibuk dan sakit. Maafkan saya karena selama ini belum mampu memberikan kesejahteraan yang layak untuk kalian. Semoga seluruh pekerjaan yang kita lakukan bersama akan menjadi monumen bagi kebersamaan kita. Kalianlah yang terbaik.
Antara Aku dan Saya
Suatu saat dalam hidup ini, sorang manusia bisa dihadapkan pada kondisi yang sangat rumit. Begitu rumitnya hingga dia tak sempat memikirkan tentang jalan keluar. Pikirannya terhenti di kerumitan itu. Tak ada pikiran untuk keluar. Tidak sadar ada pintu didepan sama.
Demikianlah kondisi saya saat ini. Sebuah kerumitan yang tengah saya jalani yang sungguh-sungguh membuat saya bahkan tidak menyadari, bahwa diujung sana masih ada jalan untuk keluar. Bukankah sangat kontradiktif ? (apanya ? pikir sendiri) ada saat ketika saya memilih ke kanan, maka seorang kawan akan hancur, dan saat saya memilih ke kiri maka saya akan kehilangan kawan yang lain. Mengapa begitu rumit ? karena bagi saya, kawan, bukanlah nama, nick, foto dan alamat email yang setiap saat bisa didelete saat saya merasa bosan dengan wajahnya, tingkahnya, kelakuannya, omongannya dan sebagainya. Menurut saya, seorang kawan adalah rekan, tim, personal, real, nyata, bukan sekedar nama di friendster saya. Ia tak mungkin dibuang, walaupun sedemikian jahatnya kepada saya. Karena ia adalah bagian dari diri saya, hidup saya. Ia akan selalu mengada. Hanya sederhana; mungkin saya merasa disakiti oleh dia, namun bukankah dia pun pernah merasa disakiti pula oleh saya ? entah kapan dan dimana, siapa yang mengetahuinya ?
Okelah, memang terdengar sangat muluk, tapi demikianlah saya; menghargai semuanya yang pernah masuk dan singgah dalam hidup saya kali ini. Barangkali takdir pertemuan yang telah mempertemukan kita, dalam kesakitan, dalam kegembiraan, dalam omong kosong dan dalam apapun. Bagaimanapun juga, rekan, kawan saya adalah saudara saya…. Seberapapun gobloknya dia dimata saya, secerdas apapun otaknya. Demikianlah…dia memang ada di jalur samsara saya kali ini. Selamat memakan buah simalakama kawan…. Seperti aku saat ini…
Langkah telah menapak
inilah yang terjadi apabila sesorang mulai melangkah. ia mulai menapak, berjalan, menatap arah di depannya dengan yakin. dengan yakin....
Into The Void
di sunia yang sangat sunyi ini, saya bertemu dengan mereka, para petualang kehampaan. pandangan mata yang lurus kedepan, mulut membisu. tiada lagi kehangatan senyum dan tawa ceria. yang tersisa hanya keheningan dan keberjagaan. percakapan tanpa suara, berjabatan tanpa tangan...





