Sebuah doa jauh dibawa oleh angin malam
Menjiwai daun dalam tarian lesu mereka
Ini himne dari pohon-pohon tua, dinyanyikan untuk kalian
Bagi hutan muram yang sekarang tertidur
Begitu banyak musim telah berlalu tanpa menunggu kami
Daun keemasan jatuh ke tanah mati
Suatu hari nanti akan kembali ke kehidupan di bawah langit bercahaya
Tapi dunia kita terkikis akan tetap sama
Dan besok,
kau dan aku akan pergi
Another Time
Zero Growth
Hidup itu tumbuh, kadang terlalu cepat kadang mati. Beberapa mengalami gugur buah tapi setidaknya kita sudah mencoba. Yang ingin saya nyatakan adalah keprihatinan pada proses, kendali penuh pada kapal besar yang bernama diri. Anda melihat palang pintu namun menyangkal dengan cara menembus batas logika. Demikian pendapat yang sering diperdengarkan pada segelintir orang yang mengaku sebagai berlebih, entah mereka bisa mendengarkan batu bicara, entah mereka bisa melihat rembulan merah. bagaimana ? sangat tidak berarti bukan ? Saya sangat gemetar oleh peradaban, situasi, alam yang terus hidup. saya menginginkan keberhentian pada suatu titik. Yang disebut NOL.
Larvae
seperti badan yang enggan menggeliat, peluru kenyataan menembus kekakuan jiwa, menyegarkan ingatan pada burung di atas laut yang menyambar-nyambar ikan demi suatu pengharapan; hidup ? akankah dalam dada ini tumbuh kemungkinan terburuk ? menghentakkan nafas yang kian beringas, kulalui jalan penuh cahaya. tanpa tersisa kegelapan, tanpa terbakar kemapanan. aku masih berbelok lagi. bila kuucapkan selamat tinggal saat ini, bukankah nanti kan sia-sia ?
Anxietozole
kegagalan komunikasi bukan alasan untuk memulai hidup. apakah kekecewaanmu hanya sebatas mengumpati kelahiran yang dihidupi oleh minat semesta ? kita sudah berkali-kali tersungkur saat mengingkari keberadaan yang lari jauh. namun sekali lagi kita dipuaskan oleh khayalan dan iming-iming kenikmatan tanpa batas. semua orang tertawa padamu, mereka mengenalmu sebagai pengharapan, tapi aku bergurau dengan mengatakan semua ini hanya badut dan kebun binatang, semua akan usai saat malam tiba, saat musang berkeliaran di sepanjang pematang.
Led
Tidak semudah itu. Benar, seandainya saya mampu melakukan perubahan itu, semata-mata karena sebuah kebetulan yang disengajakan. Berbagai bunyi yang sumbang, yang begitu mencederai kuping hingga menembus batas jiwa kita, terdengar di keseharian yang rumit, kita hanya mampu menengadah bagai sawah di musim hujan. mengapa tidak berlalu dengan diam saja ? Well.. saya tidak begitu peduli lagi, semua sudah seperti seharusnya, kita memakai bahasa yang sudah ditinggalkan oleh makna.. moralitas ? Bagaikan lagu yang didengungkan tanpa makna. Semua hampir sama di dalam permasalahan ini, yang mengkerucut menjadi; tiada lagi tata bahasa yang nikmat bagi saya, semua sudah luar biasa....
siap....caught somewhere in time
dilatasi waktu psikologis manusia tak bisa secara akurat membedakan mana yang dekat dan mana yang jauh, khususnya dalam konteks waktu linear. sebagai contoh : tindakan korupsi bisa dipahami hanya dilakukanj oleh mereka yang kesadaran waktu psikologisnya hanya bisa menjangkau 1 meter 2 meter didepan. instanisme, oportunisme, menjadi agama baru yang bertuhankan nafsu berbalut rasionalisasi ego terhadap segala resiko.
Batu Besar
sebuah batu besar di bukit :
bagai seseorang sedang merenung
betapa sunyi !
dan langit yang mengaca
memantul bayang-bayang awan di atas bukit
kala matahari tenggelam berkilauan
batu besar itu dirangkum sepi
batu besar di bukit :
wajah senja yang bijaksana
dan bukit yang sunyi.
Lagu Rakyat
bulan mei
tengah hari
matahari memercik
pada bulir-bulir padi
bayang-bayang menari
sepanjang jalan sunyi.
di padang rumput
sebaris pohon
menggoyangkan daun
bagai tangan lumpuh.
segumpal awan
malas dan gontai
gemetar
lalu melenyap.
langit biru
luas membentang
bagai kuburan kosong!
Kusapa Sepi
kusapa sepi
di atas batu besar
di tepi kali.
ia tersenyum
menggenggam erat jemariku
lalu berkata,
kini aku
bukan sepi lagi.
april 97





